Di Antara Mandar dan Jawa: Ibu sebagai Penjaga Bahasa
Nama Penulis: Tri Lutfi Widayati, S.S., M.A
Asal Instansi: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene
Di banyak keluarga Indonesia, orang pertama yang mengajarkan kata-kata kepada anak bukanlah guru di sekolah atau buku pelajaran, melainkan ibu. Dari panggilan sederhana seperti mama, makan, dan tidur, hingga cerita sebelum tidur, bahasa pertama tumbuh dalam pelukan seorang perempuan. Tidak berlebihan jika bahasa pertama yang kita kuasai disebut sebagai bahasa ibu.
Dalam kehidupan sehari-hari, peran ini berlangsung secara alami. Seorang ibu berbicara kepada anaknya menggunakan bahasa yang paling dekat dengan hatinya, bahasa yang ia warisi dari keluarganya, dari kampung halamannya, dan dari masa kecilnya. Bahasa itu tidak diajarkan melalui buku tata bahasa atau ruang kelas, melainkan melalui percakapan sederhana di rumah, nasihat yang diucapkan dengan lembut, cerita masa kecil, bahkan teguran ketika anak berbuat salah. Dari proses yang sederhana itulah bahasa hidup dan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa nasional maupun bahasa asing, peran perempuan sebagai penjaga bahasa menjadi semakin penting. Banyak bahasa daerah perlahan mulai jarang digunakan. Jika keluarga berhenti menggunakan bahasa daerah, maka bahasa itu pun perlahan kehilangan ruang hidupnya. Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia juga menyimpan nilai, cara berpikir, serta memori budaya suatu masyarakat.
Saya lahir dan tumbuh di Sulawesi, tepatnya di tanah Mandar, sebuah wilayah yang kaya akan tradisi dan bahasa daerah. Bahasa Mandar hidup dalam kehidupan sosial masyarakat: di pasar, di percakapan antar tetangga, di acara adat, hingga dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekitar. Bahasa ini menjadi bagian dari ruang sosial tempat saya bertumbuh.
Namun, di rumah saya memiliki pengalaman bahasa yang sedikit berbeda. Ibu saya berasal dari suku Jawa. Dari beliaulah bahasa Jawa hadir dalam kehidupan keluarga kami. Ia sering menyelipkan kata-kata Jawa dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika memberi nasihat atau mengekspresikan sesuatu dengan cara yang lebih lembut. Tanpa saya sadari, dari situlah saya belajar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jembatan identitas.
Ibu mengajarkan bahasa Jawa di rumah, sehingga saya tidak lupa bahwa ada identitas lain yang mengalir dalam diri saya, darah Jawa yang menjadi bagian dari keluarga kami. Bahasa itu menjadi pengingat tentang asal-usul dan tentang keluarga besar yang tinggal jauh dari tempat saya tumbuh. Sementara itu, saya juga memiliki kekayaan bahasa Mandar sebagai bahasa tanah kelahiran yang saya gunakan dalam lingkungan sosial.
Situasi ini menciptakan ruang bahasa yang unik dalam kehidupan saya. Ada dua bahasa yang tumbuh berdampingan, masing-masing membawa cerita dan nilai budayanya sendiri. Bahasa Mandar menghubungkan saya dengan tempat saya lahir dan masyarakat di sekitar saya, sementara bahasa Jawa menjadi penghubung dengan identitas keluarga yang diwariskan oleh ibu.
Kini, pengalaman bahasa itu berlanjut dalam kehidupan saya sendiri. Saya menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki latar suku campuran Mandar dan Toraja. Dalam keluarga kecil kami yang kini memiliki seorang anak bernama Aksara, bahasa Indonesia kami gunakan sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari. Namun, saya tetap berusaha menyelipkan bahasa Jawa dalam percakapan harian, sebagaimana dulu ibu melakukannya kepada saya.
Di saat yang sama, saya juga bekerja sama dengan suami agar Aksara terbiasa mendengar dan mengenal bahasa Mandar dan Toraja sebagai bagian dari identitas keluarganya. Bahkan kami memiliki “aturan kecil” dalam keluarga: ketika Aksara berada di rumah mbah uti (neneknya dari pihak saya) ia harus berusaha menggunakan bahasa Jawa. Aturan sederhana ini kami lakukan sebagai cara menjaga agar bahasa itu tetap hidup dalam dirinya, sebagaimana pepatah Jawa yang sering diucapkan orang tua dahulu, “ben ra ilang Jawane” (agar tidak hilang kejawaannya).
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelestarian bahasa tidak selalu harus dilakukan melalui program besar atau kebijakan formal. Ia sering dimulai dari hal-hal sederhana: percakapan di rumah, cerita masa kecil, atau ungkapan kasih sayang dalam bahasa daerah.
Perempuan, terutama ibu memiliki peran yang sangat penting dalam proses ini. Mereka adalah pendidik pertama dalam kehidupan anak sekaligus penjaga memori budaya keluarga. Melalui bahasa yang mereka gunakan setiap hari, mereka sebenarnya sedang merawat warisan yang tak terlihat tetapi sangat berharga. Pada akhirnya, bahasa adalah cerita tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Sering kali, cerita itu pertama kali kita dengar dari suara seorang ibu. Dari suara itulah kita belajar bahwa identitas bisa lahir dari banyak bahasa dari tanah tempat kita tumbuh, dari keluarga yang kita warisi, dan dari upaya kecil seorang ibu yang terus menjaga agar bahasa-bahasa itu tetap hidup di rumahnya.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MEMBUMIKAN PANCASILA DI SERAMBI SEKOLAH: Gotong Royong Nyata dari Wonomulyo untuk Indonesia
Oleh: Guru Pendidikan Pancasila SMKS Suparman Wonomulyo Refleksi Memperingati Hari Lahir Pancasila — 1 Juni 2026 Setiap tanggal 1 Juni, sanubari kita sebagai pendidik dan anak b
Meluruskan Mitos "Anti-Tinggal Kelas": Menilik Aturan Kenaikan Kelas Berdasarkan Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022
Di tengah dinamisnya perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, sering kali muncul kesalahpahaman di kalangan pendidik maupun masyarakat luas mengenai kebijakan kenaikan kelas. Sal
MEMBACA TIDAK PERNAH DIMULAI DARI PERINTAH
Seperti biasa, saya berangkat dari rumah ke sekolah. Pagi yang cerah memberi semangat yang luar biasa. Masuk ke kelas dengan keadaan siap untuk mengajar. Kelas ini 90% laki-laki karena


