• SMKS SUPARMAN WONOMULYO
  • Sekolah Teknik Pertama di Polewali Mandar, Sejak 1967
  • smkssuparmanwonomulyo@gmail.com
  • 085311514675
  • Pencarian

MEMBUMIKAN PANCASILA DI SERAMBI SEKOLAH: Gotong Royong Nyata dari Wonomulyo untuk Indonesia

Oleh: Guru Pendidikan Pancasila SMKS Suparman Wonomulyo

Refleksi Memperingati Hari Lahir Pancasila — 1 Juni 2026

Setiap tanggal 1 Juni, sanubari kita sebagai pendidik dan anak bangsa kembali digugah oleh momentum bersejarah lahirnya dasar negara kita, Pancasila. Di ruang-ruang kelas SMKS Suparman Wonomulyo, saya selalu menekankan kepada para siswa bahwa Pancasila bukanlah artefak masa lalu yang kaku, bukan pula sekadar teks formal yang rapuh dan hanya dihafalkan dengan khidmat saat upacara bendera hari Senin. Pancasila adalah energi hidup, sebuah kompas moral, dan napas kebangsaan yang dinamis. Proklamator bangsa kita, Bung Karno, dengan sangat brilian pernah memeras kelima sila yang luhur itu menjadi satu frasa yang berakar kuat dalam jiwa kepribadian bangsa, yaitu “Gotong Royong”. Sebuah konsep yang melampaui sekat-sekat perbedaan, mengedepankan semangat bekerja sama, bahu-membahu, dan saling menopang demi mencapai maslahat serta tujuan bersama.

Di era modern tahun 2026 ini, di tengah gempuran arus digitalisasi dan individualisme yang kian tajam, ekosistem sekolah bertransformasi menjadi laboratorium sosial terbaik sekaligus benteng pertahanan utama untuk menguji, merawat, dan menumbuhkan nilai-nilai luhur tersebut. Sejalan dengan riset dari Hanafih dan Martati (2023) yang menegaskan bahwa penerapan nilai karakter gotong royong di lingkungan sekolah telah menunjukkan tren perkembangan yang sangat positif, kami di SMKS Suparman Wonomulyo menyaksikan sendiri bagaimana nilai ini mewujud nyata. Melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang secara khusus menitikberatkan pada penguatan karakter, praktik gotong royong di sekolah kami telah naik kelas. Ia bukan lagi sekadar agenda rutin kebersihan kelas atau kerja bakti mencabut rumput di halaman, melainkan telah bermutasi menjadi fondasi kokoh dalam membangun empati mendalam, menghargai individualitas, dan menggerakkan kolaborasi autentik antarwarga sekolah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara strategis telah menempatkan “Gotong Royong” sebagai salah satu dimensi kunci dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kebijakan visioner ini lahir atas dasar pijakan yang kuat: berbagai riset global menunjukkan bahwa kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif merupakan keterampilan abad ke-21 yang wajib dimiliki oleh generasi muda agar mampu bertahan dan bersaing. Di SMKS Suparman Wonomulyo, implementasi P5 ini kami wujudkan melalui kerja kelompok lintas kelas yang menantang siswa untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Melalui proyek ini, ego sektoral antar-jurusan melebur; siswa belajar mendengarkan ide orang lain, bernegosiasi tanpa kekerasan, dan berbagi peran secara adil. Di sinilah esensi Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, mewujud bukan dalam konsep yang mengawang-awang, melainkan dalam keringat kerja sama yang nyata.

Menariknya, di luar tuntutan kurikulum formal yang terstruktur, implementasi gotong royong secara horizontal justru tumbuh subur melalui inisiatif-inisiatif sosial yang lahir murni dari empati organik para siswa kami. Salah satu manifestasi paling konkret dan konsisten yang kami rawat di SMKS Suparman Wonomulyo adalah program “Gerakan Seribu Rupiah” (GSR) atau dana sosial mingguan yang dikelola secara mandiri, jujur, dan akuntabel oleh pengurus kelas masing-masing. Ketika ada salah satu siswa yang tertimpa musibah, mengalami sakit, atau terhimpit kesulitan ekonomi, dana yang terkumpul dari kepingan uang receh sukarela ini segera disalurkan untuk meringankan beban mereka. Di titik inilah, Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) bertemu dalam satu tindakan nyata. Di lingkungan sekolah kami, sekat-sekat status sosial luruh; tidak ada lagi dinding pemisah antara si kaya dan si miskin. Yang menyala hanyalah satu kobaran semangat universal: “Tidak boleh ada satu pun teman kita yang berjuang sendirian.”

Lebih jauh lagi, denyut gotong royong di sekolah kami tercermin dengan sangat indah dalam pengelolaan keberagaman dan komitmen merawat inklusivitas. Terlebih di wilayah Wonomulyo yang kaya akan keberagaman latar belakang, sekolah harus menjadi rumah yang ramah bagi semua. Ketika sekolah menyelenggarakan festival budaya atau memperingati hari-hari besar keagamaan, seluruh elemen sekolah tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, maupun golongan, saling bahu-membahu dalam menyukseskan acara tersebut. Siswa yang berbeda keyakinan dengan tulus ikut menjaga kenyamanan rekan-rekannya yang sedang beribadah atau merayakan hari besar. Tindakan-tindakan kecil, sederhana, namun dilakukan secara konsisten ini terbukti efektif membangun imunitas psikologis dan sosial siswa terhadap paparan paham radikalisme serta intoleransi sejak dini. Sekolah menjadi replika mini Indonesia yang damai, di mana Sila Ketiga dihayati sebagai anugerah, bukan pemisah.

Namun, sebagai seorang pendidik, saya sangat menyadari bahwa ekosistem sekolah yang tangguh tidak bisa dibangun oleh siswa dan guru sendirian. Gotong royong yang sejati, yang memiliki daya ubah sistemik, wajib melibatkan sinergi erat dari “Segi Emas” Pendidikan: sekolah (guru dan kepala sekolah), orang tua, serta masyarakat luas. Ketika SMKS Suparman Wonomulyo merancang program pembenahan fasilitas digital, pengembangan literasi, maupun program magang industri bagi siswa, orang tua melalui wadah Komite Sekolah hadir bukan sebagai penonton, melainkan mitra yang menyumbang pemikiran, jaringan, dan tenaga. Guru tidak lagi berjalan sendirian di garda depan sebagai pengasuh formal, dan orang tua tidak memosisikan diri secara transaksional hanya sebagai “konsumen” jasa pendidikan. Relasi yang setara, harmonis, dan saling mendukung inilah yang berhasil membentuk lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak.

Anjeli, S.Pd. (Guru Pendidikan Pancasila)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Meluruskan Mitos "Anti-Tinggal Kelas": Menilik Aturan Kenaikan Kelas Berdasarkan Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022

Di tengah dinamisnya perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, sering kali muncul kesalahpahaman di kalangan pendidik maupun masyarakat luas mengenai kebijakan kenaikan kelas. Sal

24/05/2026 17:12 - Oleh Administrator - Dilihat 35 kali
MEMBACA TIDAK PERNAH DIMULAI DARI PERINTAH

Seperti biasa, saya berangkat dari rumah ke sekolah. Pagi yang cerah memberi semangat yang luar biasa. Masuk ke kelas dengan keadaan siap untuk mengajar. Kelas ini 90% laki-laki karena

24/05/2026 11:40 - Oleh Administrator - Dilihat 91 kali